Kamis, 22 November 2012

Fisika Kepemimpinan

    Prof. Yohanes Surya Ph.D/Chairman Surya Institute berkata : "Pada waktu saya mempelajari hukum-hukum Fisika, saya berpikir, jika hukum-hukum ini dapat mengatur gerak alam semesta, apakah mungkin hukum-hukum ini juga dapat digunakan untuk mengatur orang, organisasi, perusahaan, daerah ataupun negara? Apa yang kita dapat manfaatkan hukum Fisika ini dalam kepemimpinan? Dalam Fisika ada empat fenomena yang menarik perhatian saya yaitu fenomena gerak benda dan penyebabnya (saya namakan ini fenomena Newton), fenomena relativistik (saya namakan ini fenomena Einstein), fenomena kuantum dan fenomena pengaturan diri ketika suatu sistem berada pada kondisi kritis yang saya namakan fenomena mestakung.Tiap-tiap fenomena ini terjadi pada situasi dan kondisi tertentu yang unik. Sangat menarik untuk mempelajari tiap fenomena ini dan melihat bagaimana hukum-hukum fisika bekerja pada tiap-tiap fenomena.  Dalam hal ini saya akan berbagi mengenai Fenomena Newton...

Fenomena Newton
 
Pada abad ke 17-18 Newton memperkenalkan tiga hukum yang sangat terkenal tentang gerak benda dan penyebabnya. Hukum pertama mengatakan bahwa suatu benda yang sedang diam akan cenderung untuk tetap diam jika tidak ada yang mengganggunya. Atau suatu benda yang sedang bergerak lurus teratur akan terus bergerak lurus teratur. Hukum kedua mengatakan bahwa benda yang mendapat gaya akan bergerak dipercepat. Makin besar gayanya makin besar pula percepatannya. 


Dan yang terakhir adalah bahwa ketika benda mendapat gaya (aksi) benda akan memberikan gaya reaksi yang besarnya sama dengan gaya aksi tersebut. Ketiga hukum Newton ini bekerja dengan baik pada suatu sistem inersial (suatu sistem yang tenang, sistem yang tidak dipercepat, tidak dalam keadaan chaos).
 
Dalam kepemimpinan, hukum Newton ini dapat diterapkan pada kondisi organisasi (perusahaan, daerah, negara) yang tenang atau dibuat tenang. Dalam kondisi tenang ini, orang cenderung malas. Mereka malas bergerak, mereka maunya diam saja (hukum I Newton). Pemimpin yang dibutuhkan disini adalah pemimpin yang mempunyai visi yang jelas dan terukur serta mempunyai daya dobrak. Visi dapat menjadi suatu faktor pendorong untuk mempercepat kemajuan organisasi ini. Dengan daya dobrak yang dimiliki, pemimpin ini akan mampu menghadapi kelembaman (kemalasan) dari orang-orang yang dipimpinnya dan mampu memberikan stimulir-stimulir untuk orang-orang di organisasi tersebut terus bergerak. Pemimpin jenis ini membutuhkan sumber daya (resources) baik berupa SDM (sumber daya manusia) ataupun SDA (sumber daya alam) yang kuat agar ia mempunyai energi yang cukup untuk terus memberikan gaya penggerak.
 
Contoh kepemimpinan model ini adalah Indonesia dalam masa orde baru. Awalnya Suharto berusaha membuat negara tenang secara militer. Kemudian ia memperkenalkan visi yang terukur dalam bentuk repelita (rencana pembangunan lima tahun). Ia terus memberikan stimulir-stimulir hingga roda perekonomian terus bergerak dan makin lama makin cepat. Keberhasilan Suharto karena ia juga ditopang oleh SDA Indonesia yang luar biasa.
 
China juga melakukan hal yang serupa, saat ini dalam situasi yang tenang, China mempercepat pembangunan dengan memberikan stimulir-stimulir bagi para investor. Ia juga memanggil para ilmuwan yang berada di luar negeri untuk pulang kampung menjadi gaya-gaya penggerak perekonomian. Keberhasilan China ini karena mereka mempunyai SDM yang sangat bagus. Hal esensial lain dalam kepemimpinan model Newton ini adalah diperlukannya sifat otoriter dan tegas dari sang pemimpin. Pemimpin harus tegas untuk menjamin organisasi yang dipimpinnya tetap tenang dan aman. Tidak boleh ada oposisi. Mereka yang berusaha menimbulkan goncangan harus segera diredam.


2 komentar:

  1. belajar fisika dengan konsep2nya supaya bisa memimpin dengan adil...

    BalasHapus
  2. swetuju.........artikelnya top2 markotop.....
    fisika tidak hanya berhubungan rumus...konsepnya juga dapat diaplikasikan dalam kepemimpinan di suatu negara

    BalasHapus